Perisai Cinta untuk Si Kecil: Mengapa Imunisasi Sangat Penting? – Imunisasi membangun kekebalan tubuh anak terhadap penyakit berbahaya. Dokter memberikan vaksin yang mengandung antigen lemah atau mati dari kuman penyakit. Sistem kekebalan anak merespons dengan memproduksi antibodi khusus. Antibodi ini akan melindungi anak jika suatu saat terpapar kuman sesungguhnya.
Tanpa imunisasi, tubuh anak harus melawan penyakit dari awal tanpa persiapan. Bayi dan balita memiliki sistem imun yang masih belum matang. Mereka sangat rentan terhadap infeksi berat yang bisa mengancam nyawa. Imunisasi memberikan “latihan perang” bagi sistem kekebalan sebelum musuh sesungguhnya datang.
Baca Juga: Pelukan Perlindungan Sejak Dalam Kandungan: Mengapa Skrining Risiko Prematur Tak Boleh Terlewat?
Vaksin telah menyelamatkan 2 hingga 3 juta nyawa anak setiap tahunnya. Penyakit seperti cacar, campak, dan polio kini hampir punah berkat imunisasi. Namun penyakit-penyakit ini masih ada di negara lain dan bisa masuk kapan saja. Anak yang tidak diimunisasi tetap berisiko tertular dan menyebarkan penyakit.
Penyakit Mematikan yang Dapat Dicegah
Campak: Sangat Menular dan Mematikan
Virus campak menyebar melalui percikan air liur saat batuk atau bersin. Satu orang penderita dapat menulari 90 persen orang di sekitarnya yang tidak kebal. Komplikasi campak meliputi pneumonia berat, radang otak, dan kebutaan. Sebelum vaksin tersedia, campak membunuh 2,6 juta anak setiap tahun. Vaksin campak memberikan perlindungan seumur hidup setelah dua dosis. Efektivitasnya mencapai 97 persen pada penerima vaksin lengkap.
Polio: Melumpuhkan Sepanjang Hayat
Virus polio menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan permanen. Kelumpuhan paling sering terjadi pada kaki, tetapi bisa juga pada lengan atau otot pernapasan. Anak yang lumpuh akibat polio tidak bisa sembuh sepenuhnya meskipun dengan terapi terbaik. Berkat imunisasi, Indonesia bebas polio sejak tahun 2014. Namun wabah masih terjadi di negara tetangga seperti Afghanistan dan Pakistan. Virus dapat masuk kapan saja melalui pelancong yang terinfeksi.
Difteri dan Tetanus
Bakteri difteri menghasilkan racun yang merusak jantung, ginjal, dan saraf. Penderita mengalami pembengkakan tenggorokan yang dapat menyumbat saluran napas. Angka kematian difteri mencapai 5 hingga 10 persen bahkan dengan pengobatan. Pada anak di bawah 5 tahun, angka kematian bisa mencapai 20 persen.
Bakteri tetanus masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Racun yang dihasilkan menyebabkan kejang otot yang sangat menyakitkan. Rahang mengunci sehingga penderita tidak bisa membuka mulut atau menelan. Tetanus membunuh 1 dari 5 penderitanya, terutama bayi dan lansia.
Jadwal Imunisasi Dasar Lengkap
Usia 0 hingga 4 Bulan
Bayi baru lahir mendapat imunisasi Hepatitis B0 dalam waktu 24 jam setelah lahir. Pada usia 2 bulan, bayi menerima beberapa vaksin sekaligus. Vaksin BCG mencegah tuberkulosis berat yang menyerang otak dan tulang. Vaksin DPT-HB-Hib melindungi dari difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan radang selaput otak. Bayi juga mendapat Polio 0 dan Rotavirus untuk mencegah diare berat.
Usia 3 bulan menjadi jadwal pemberian vaksin DPT-HB-Hib dosis kedua. Polio 2 tetes dan Rotavirus dosis kedua juga diberikan. Memasuki usia 4 bulan, vaksin DPT-HB-Hib dosis ketiga menjadi dosis terakhir untuk perlindungan dasar. Polio 3 tetes melengkapi perlindungan terhadap virus polio. Bayi juga mendapat vaksin PCV atau pneumonia dosis pertama dan kedua.
Usia 9 hingga 18 Bulan
Vaksin campak rubella dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan. Vaksin ini melindungi dari campak dan rubella atau campak Jerman. Rubella sangat berbahaya bagi ibu hamil karena menyebabkan cacat bawaan pada janin.
Pada usia 18 bulan, anak mendapat vaksin campak rubella dosis kedua. Vaksin DPT-HB-Hib dan Polio dosis lanjutan juga diberikan. Dosis lanjutan ini memperkuat kekebalan hingga anak memasuki usia sekolah.
Usia Sekolah (BIAS)
Program BIAS atau Bulan Imunisasi Anak Sekolah memberikan vaksin lanjutan. DT atau Td diberikan untuk memperkuat perlindungan terhadap difteri dan tetanus. Vaksin campak rubella dan HPV untuk anak perempuan juga diberikan di sekolah.
Keamanan Vaksin dan Fakta Penting
Vaksin Tidak Menyebabkan Autisme
Klaim yang menghubungkan vaksin MMR dengan autisme sudah berulang kali dibantah. Studi awal yang memicu kepanikan ini telah dicabut karena kecurangan data. Penelitian besar melibatkan lebih dari 1,2 juta anak tidak menemukan hubungan apa pun. Autisme muncul karena faktor genetik, bukan karena vaksin.
Efek Samping Umumnya Ringan
Demam ringan dan kemerahan di bekas suntikan adalah efek samping paling umum. Bayi mungkin rewel atau tidak nafsu makan selama 1 hingga 2 hari. Efek samping ini tanda bahwa sistem kekebalan sedang bekerja membangun perlindungan. Efek samping berat seperti alergi berat sangat jarang, hanya 1 dari 1 juta dosis.
Vaksin Tidak Mengandung Bahan Berbahaya
Thimerosal (pengawet mengandung merkuri) sudah tidak digunakan pada vaksin anak sejak tahun 2000. Aluminium dalam vaksin jauh lebih sedikit dari paparan harian dari makanan dan air. Formaldehid dalam vaksin juga dalam jumlah sangat kecil, lebih rendah dari produksi alami tubuh. Semua bahan vaksin telah melalui uji keamanan ketat oleh BPOM dan WHO.
Kekebalan Kelompok dan Akibat Tidak Imunisasi
Melindungi yang Tidak Bisa Diimunisasi
Tidak semua anak bisa menerima imunisasi karena kondisi medis tertentu. Anak dengan sistem imun lemah akibat kemoterapi tidak bisa divaksin hidup. Bayi yang terlalu prematur atau sangat sakit juga harus menunda imunisasi. Anak-anak ini bergantung pada kekebalan kelompok atau herd immunity.
Jika 95 persen populasi kebal terhadap suatu penyakit, penularan akan terputus. Kuman tidak menemukan cukup orang rentan untuk menyebar dan bertahan hidup. Anak yang tidak bisa divaksin terlindungi secara tidak langsung oleh anak-anak lain yang divaksin.
Akibat Tidak Memberikan Imunisasi Lengkap
Anak tanpa imunisasi bagaikan berjalan di ladang ranjau tanpa pelindung. Suatu saat ia akan terpapar kuman penyebab penyakit. Tubuhnya harus melawan penyakit dari nol tanpa antibodi siap pakai.
Anak yang sakit dapat menulari adik bayi yang belum cukup usia untuk divaksin. Ia juga dapat menulari nenek atau kakek yang sistem imunnya sudah lemah. Imunisasi gratis di puskesmas dan posyandu. Satu kali vaksinasi hanya membutuhkan waktu 15 menit. Bandingkan dengan biaya rawat inap anak akibat difteri atau pneumonia yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Peran Orang Tua dalam Keberhasilan Imunisasi
Gunakan buku KIA untuk mencatat setiap imunisasi yang telah diberikan. Tandai tanggal pemberian vaksin berikutnya di kalender rumah. Setel pengingat di ponsel beberapa hari sebelum jadwal imunisasi. Jangan biarkan kesibukan membuat Anda melewatkan jadwal penting si kecil.
Bawa buku KIA setiap kali ke fasilitas kesehatan. Petugas kesehatan perlu melihat buku ini untuk mengetahui vaksin yang sudah diberikan. Mereka juga akan mencatat vaksin baru yang diberikan hari itu.
Tanyakan semua kekhawatiran Anda tentang imunisasi kepada dokter anak. Dokter akan menjelaskan manfaat dan risiko secara jujur dan ilmiah. Jangan percaya hoaks yang beredar di media sosial atau grup chat. Sumber informasi imunisasi terpercaya hanya dari dokter, IDAI, dan Kementerian Kesehatan.
Jika anak melewatkan jadwal imunisasi, jangan panik. Anak tetap bisa mendapatkan imunisasi kejar sesuai pedoman dari dokter. Imunisasi kejar diberikan dengan jarak yang disesuaikan usia anak saat ini. Jangan mengulang dari awal karena hanya akan menunda perlindungan yang dibutuhkan.
Kesimpulan
Imunisasi menjadi perisai cinta paling kuat yang bisa orang tua berikan untuk si kecil. Vaksin melindungi anak dari 14 penyakit berbahaya yang dapat melumpuhkan atau membunuh. Campak, polio, difteri, tetanus, dan pertusis bukanlah penyakit masa lalu. Mereka masih ada dan menunggu anak yang tidak terlindungi.
Jadwal imunisasi dasar lengkap sudah dirancang untuk memberikan perlindungan optimal. Setiap vaksin diberikan pada waktu tepat untuk membangun kekebalan sebelum anak terpapar penyakit. Vaksin aman, efektif, dan diberikan gratis di fasilitas kesehatan pemerintah.
Efek samping umumnya ringan dan sementara, tidak sebanding dengan risiko penyakit. Kekebalan kelompok melindungi anak yang tidak bisa diimunisasi karena kondisi medis. Sebagai orang tua, Anda memiliki tanggung jawab moral untuk mengimunisasi anak. Bukan hanya untuk melindungi si kecil, tetapi juga untuk melindungi anak lain di sekitarnya.
Jangan biarkan keraguan atau informasi palsu merampas hak anak atas perlindungan. Bawa si kecil ke posyandu atau puskesmas terdekat. Berikan perisai cinta itu sekarang juga.