Muncul ‘Sekte’ Makan Tempe Mentah, Diyakini agar Nutrisinya Tak Rusak – Sebuah tren unik muncul di kalangan pecinta makanan sehat belakangan ini. Kelompok kecil namun vokal mulai mempromosikan kebiasaan makan tempe mentah. Mereka meyakini bahwa memasak tempe akan merusak kandungan nutrisinya. Kelompok ini bahkan bercanda menyebut diri mereka sebagai “sekse” pecinta tempe mentah.
Fenomena ini menarik perhatian para ahli gizi. Pasalnya, tempe selama ini dikenal sebagai makanan yang aman dikonsumsi setelah dimasak. Makan tempe mentah menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan manfaatnya. Artikel ini akan mengupas tuntas kebiasaan kontroversial ini.
Baca Juga: Kena Campak saat Bayi, Bocah 7 Tahun Alami Komplikasi Berujung Kematian
Alasan di Balik Tren Makan Tempe Mentah
Para penggemar tempe mentah memiliki keyakinan kuat. Mereka menganggap proses memasak akan merusak enzim alami dalam tempe. Enzim-enzim ini menurut mereka sangat bermanfaat bagi pencernaan. Suhu panas saat memasak diyakini membunuh bakteri baik atau probiotik.
Kelompok ini juga meyakini bahwa protein dalam tempe lebih mudah diserap saat mentah. Mereka mengklaim mengalami peningkatan energi setelah beralih ke tempe mentah. Beberapa bahkan mengaku masalah pencernaannya membaik secara signifikan.
“Memasak tempe sama saja membunuh ‘nyawa’ dari makanan ini. Kami ingin mendapatkan manfaat maksimal dari fermentasi kedelai,” ujar salah satu penggagas tren ini di media sosial.
Pendapat Ahli Gizi
Dr. Amelia Sari, ahli gizi dari Universitas Indonesia, memberikan pandangannya. “Tempe memang memiliki nilai gizi luar biasa. Namun tidak ada bukti ilmiah bahwa memasak tempe merusak nutrisinya secara signifikan,” jelasnya.
Menurut dr. Amelia, proses fermentasi tempe justru sudah “memasak” kedelai secara biologis. Jamur Rhizopus memecah protein kompleks menjadi bentuk lebih sederhana. Karena itu, tempe sebenarnya sudah aman dikonsumsi mentah. Namun ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai.
“Masalah utamanya bukan pada nutrisi, tetapi pada kebersihan dan keamanan pangan. Tempe yang tidak dimasak berisiko mengandung bakteri berbahaya,” tambahnya.
Risiko Makan Tempe Mentah
Ahli gizi mengingatkan beberapa risiko serius dari konsumsi tempe mentah. Pertama, kontaminasi bakteri patogen seperti E. coli atau Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan parah. Gejalanya meliputi muntah, diare, dan demam tinggi.
Kedua, tempe mentah lebih sulit dicerna bagi sebagian orang. Kandungan oligosakarida dalam kedelai dapat menyebabkan gas berlebih. Akibatnya, perut menjadi kembung dan tidak nyaman.
Ketiga, risiko alergi pada individu sensitif. Protein kedelai mentah lebih mudah memicu reaksi alergi dibanding protein yang sudah dimasak. Reaksi dapat berkisar dari gatal-gatal hingga anafilaksis yang mengancam nyawa.
“Ini sangat berbahaya bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Sistem kekebalan mereka tidak sekuat orang dewasa sehat,” tegas dr. Amelia.
Kandungan Nutrisi Tempe yang Sebenarnya
Tempe merupakan sumber protein nabati yang sangat baik. Satu porsi tempe (100 gram) mengandung sekitar 20 gram protein. Tempe juga kaya akan serat, vitamin B12, dan zat besi. Kandungan kalsium dan magnesiumnya juga cukup tinggi.
Proses fermentasi meningkatkan ketersediaan nutrisi ini. Jamur Rhizopus memecah asam fitat yang menghambat penyerapan mineral. Akibatnya, tubuh lebih mudah menyerap zat besi dan kalsium dari tempe.
“Memasak tempe dengan suhu yang tepat tidak akan merusak keunggulan ini. Justru proses memasak dapat meningkatkan ketersediaan beberapa nutrisi,” jelas dr. Amelia.
Penelitian menunjukkan bahwa memasak tempe dapat meningkatkan aktivitas antioksidan. Pemanasan juga membantu memecah protein menjadi bentuk yang lebih mudah dicerna. Jadi mitos tentang “nutrisi rusak karena panas” tidak sepenuhnya benar.
Cara Aman Mengonsumsi Tempe
Bagi Anda yang tetap ingin mencoba tempe mentah, ada beberapa tips keamanan. Pastikan tempe berasal dari sumber terpercaya dan higienis. Tempe yang baru jadi dalam kondisi bersih lebih aman dikonsumsi mentah. Hindari tempe yang sudah berubah warna atau berbau asam.
Rendam tempe dalam air mendidih selama beberapa detik sebelum dikonsumsi. Proses blansing singkat ini membunuh bakteri tanpa merusak nutrisi. Potong tempe tipis-tipis agar lebih mudah dikunyah dan dicerna.
Namun dr. Amelia tetap merekomendasikan untuk memasak tempe. “Kukus atau rebus tempe sebentar saja. Suhu 70-80 derajat Celcius cukup untuk membunuh bakteri. Nutrisi tempe tidak akan rusak dalam suhu tersebut,” sarannya.
Cara memasak yang lebih sehat adalah dengan mengukus atau menumis. Hindari menggoreng tempe dengan minyak banyak karena menambah lemak jenuh. Tempe kukus dengan sambal atau tumis sayuran tetap lezat dan bergizi.
Manfaat Tempe bagi Kesehatan
Mengonsumsi tempe secara rutin memberikan berbagai manfaat kesehatan. Proteinnya membantu membangun dan memperbaiki jaringan tubuh. Seratnya melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit.
Kandungan isoflavon dalam tempe berfungsi sebagai antioksidan. Zat ini melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Beberapa penelitian menunjukkan isoflavon dapat menurunkan risiko kanker tertentu.
Tempe juga baik untuk kesehatan jantung. Protein nabati membantu menurunkan kadar kolesterol jahat. Serat dan antioksidannya melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Konsumsi tempe rutin dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung.
Kesimpulan
Tren makan tempe mentah menarik untuk dicermati. Para penggemarnya memiliki keyakinan kuat tentang manfaat kesehatan dari cara konsumsi ini. Namun para ahli gizi mengingatkan risiko keamanan pangan yang perlu diwaspadai.
Memasak tempe dengan cara yang tepat justru meningkatkan ketersediaan nutrisinya. Suhu panas yang tidak berlebihan membunuh bakteri tanpa merusak kandungan gizi. Tempe kukus atau rebus tetap sehat dan aman untuk dikonsumsi sehari-hari.
