Kena Campak saat Bayi, Bocah 7 Tahun Alami Komplikasi Berujung Kematian

Kena Campak saat Bayi, Bocah 7 Tahun Alami Komplikasi Berujung KematianSeorang bocah laki-laki berusia 7 tahun di Kabupaten Bandung meninggal dunia akibat komplikasi campak. Ia terinfeksi virus campak saat masih berusia 6 bulan. Kematian ini terjadi karena penyakit langka yang disebut SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis). SSPE merupakan komplikasi campak yang sangat jarang tetapi hampir selalu berakibat fatal.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat, dr. Dovy Djanas, membenarkan kejadian ini. “Pasien ini meninggal dengan diagnosis pasti Subacute Sclerosing Panencephalitis. Penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi campak yang dideritanya saat bayi,” jelas Dovy, Jumat (17/4/2026).

Perjalanan Penyakit yang Panjang

Pasien tersebut pertama kali terinfeksi campak pada usia 6 bulan. Saat itu, ia belum mendapatkan imunisasi campak. Infeksi awal ini tergolong berat dan memerlukan perawatan intensif.

Enam tahun kemudian, saat bocah itu berusia 7 tahun, muncul gejala-gejala baru. Orang tua membawanya ke rumah sakit karena kejang berulang. Tim medis juga mendapati adanya gangguan fungsi kognitif pada pasien. Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosis pasien menderita SSPE.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan penunjang, hasilnya mengarah ke SSPE. Kondisi ini terus memburuk. Akhirnya pasien meninggal dunia,” ungkap Dovy.

Apa Itu SSPE?

SSPE adalah singkatan dari Subacute Sclerosing Panencephalitis. Penyakit ini merupakan komplikasi campak yang sangat langka. Virus campak tidak langsung aktif setelah infeksi awal. Virus ini “tidur” atau laten di dalam sel saraf selama bertahun-tahun.

Setelah masa laten 6 hingga 8 tahun, virus menjadi aktif kembali. Virus kemudian menyerang jaringan otak secara progresif. SSPE menyebabkan peradangan otak kronis yang terus memburuk. Penyakit ini selalu berakibat fatal.

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan SSPE. Semua pasien SSPE meninggal dunia dalam waktu 1 hingga 3 tahun setelah gejala muncul. “SSPE tidak bisa disembuhkan dan selalu berakibat fatal. Ini mimpi buruk bagi setiap orang tua yang anaknya pernah terkena campak,” tegas Dovy.

Faktor Risiko SSPE

Dovy menjelaskan beberapa faktor yang meningkatkan risiko SSPE pada anak. Faktor utama adalah terinfeksi campak pada usia di bawah 2 tahun. Risiko tertinggi terjadi pada bayi yang terinfeksi di bawah usia 1 tahun. Semakin muda usia saat infeksi campak, semakin besar risiko SSPE di kemudian hari.

Anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko sangat tinggi. Sistem kekebalan mereka belum matang untuk melawan virus campak secara optimal. Infeksi campak yang berat dan disertai komplikasi akut juga meningkatkan risiko SSPE.

“Karena itu, pencegahan melalui imunisasi adalah satu-satunya cara. Tidak ada pengobatan untuk SSPE. Jadi mencegah campak menjadi prioritas mutlak,” ujar Dovy.

Gejala SSPE yang Perlu Diwaspadai

SSPE berkembang secara bertahap. Gejalanya memburuk seiring waktu. Pada stadium awal, orang tua mungkin mengabaikan gejala karena tampak sepele.

Stadium 1 (Awal):

  • Anak mudah marah atau menarik diri

  • Prestasi sekolah menurun tanpa sebab jelas

  • Gangguan konsentrasi dan daya ingat muncul

Stadium 2 (Motorik):

  • Lengan dan tungkai bergerak tidak terkendali

  • Otot-otot tubuh terasa kaku

  • Bicara menjadi terganggu

  • Anak tersedak saat makan atau minum

Stadium 3 (Kejang):

  • Kejang semakin sering dan berat

  • Kejang disertai gerakan ritmis pada lengan dan tungkai

  • Obat antikejang tidak mampu menghentikan kejang

Stadium 4 (Akhir):

  • Pasien tidak sadarkan diri

  • Semua fungsi saraf hilang secara perlahan

  • Kematian terjadi akibat gagal napas atau infeksi penyerta

Data SSPE di Indonesia

SSPE di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan serius. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan puluhan kasus SSPE setiap tahun. Sebagian besar pasien adalah anak-anak yang terinfeksi campak pada usia dini. Mereka juga tidak mendapatkan imunisasi campak.

Angka kejadian SSPE diperkirakan 1 dari 1.000 hingga 1 dari 10.000 kasus campak. Namun di negara dengan cakupan imunisasi rendah, angka ini bisa lebih tinggi. Indonesia termasuk negara dengan cakupan imunisasi campak yang belum optimal.

“Setiap kasus campak berpotensi menjadi SSPE. Tidak ada yang bisa memprediksi anak mana yang akan terkena komplikasi ini. Mencegah campak adalah satu-satunya cara,” tegas Dovy.

Pentingnya Imunisasi Campak

Imunisasi campak menjadi satu-satunya cara mencegah penyakit mematikan ini. Vaksin campak diberikan dua kali. Dosis pertama pada usia 9 bulan. Dosis kedua pada usia 18 bulan dalam bentuk vaksin MR (campak-rubella).

Vaksin campak aman dan efektif. Dua dosis vaksin memberikan perlindungan hingga 97 persen seumur hidup. Efek samping vaksin umumnya ringan. Demam ringan atau kemerahan di bekas suntikan adalah reaksi yang biasa terjadi.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengimunisasi anak. Risiko campak dan komplikasinya jauh lebih besar daripada risiko vaksin,” ujar Dovy.

Imbauan untuk Orang Tua

Dovy mengimbau para orang tua untuk segera memeriksakan anak jika muncul gejala mencurigakan. Kejang berulang, penurunan kesadaran, atau gangguan perilaku perlu mendapat perhatian serius. Apalagi jika anak memiliki riwayat campak di masa lalu.

Orang tua harus melengkapi imunisasi anak. Jika anak melewatkan jadwal imunisasi, segera lakukan imunisasi kejar. Konsultasikan dengan dokter anak untuk jadwal yang tepat.

Imunisasi menjadi satu-satunya cara pencegahan yang efektif. Vaksin campak aman, efektif, dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah. Setiap orang tua memiliki tanggung jawab melindungi anak dari ancaman mematikan ini. Jangan biarkan anak Anda menjadi korban berikutnya.

Tinggalkan komentar

Exit mobile version