WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang Alami Gangguan Pendengaran pada 2050 – Pendahuluan: Angka Mengerikan dari WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan prediksi mengejutkan. Pada tahun 2050, sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia akan mengalami gangguan pendengaran. Angka ini meningkat drastis dari kondisi saat ini. Saat ini, WHO mencatat sekitar 1,5 miliar orang hidup dengan gangguan pendengaran.
Baca Juga: Ramai Pro Kontra Vasektomi, Apa Bedanya dengan Kebiri?
Artinya, dalam kurun waktu 25 tahun, akan bertambah 1 miliar penderita baru. Bayangkan, hampir sepertiga populasi dunia akan kesulitan mendengar. WHO menyebut kondisi ini sebagai krisis kesehatan global yang terabaikan. Banyak orang tidak menyadari bahaya yang mengancam pendengaran mereka.
Angka Pasti dan Wilayah Rawan
WHO merilis laporan World Report on Hearing pada tahun 2021. Laporan ini menjadi dasar prediksi hingga tahun 2050. Data menunjukkan bahwa 2,5 miliar orang akan mengalami gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut, setidaknya 700 juta orang membutuhkan rehabilitasi pendengaran.
Wilayah dengan prevalensi tertinggi berada di Asia Tenggara. Pasifik Barat juga masuk dalam zona rawan gangguan pendengaran. Kemudian, Afrika dan Timur Tengah menyusul di posisi berikutnya. Dengan demikian, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menyumbang angka tertinggi.
Mengapa wilayah tersebut paling rentan? Pertama, akses terbatas terhadap layanan kesehatan menjadi faktor utama. Kedua, kurangnya edukasi tentang kesehatan pendengaran juga memperburuk kondisi. Selain itu, banyak negara di wilayah ini belum memiliki program skrining pendengaran nasional.
Paparan Suara Bising sebagai Penyebab Utama
WHO mengidentifikasi beberapa faktor utama di balik lonjakan ini. Paparan suara bising menjadi penyebab nomor satu gangguan pendengaran. Lebih dari 1 miliar anak muda berisiko kehilangan pendengaran akibat kebiasaan buruk. Mereka sering mendengarkan musik dengan volume terlalu keras. Selanjutnya, penggunaan headphone dalam waktu lama juga memperparah kondisi.
Suara di atas 85 desibel sudah dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam. Sel-sel ini tidak dapat regenerasi atau tumbuh kembali. Akibatnya, kerusakan bersifat permanen dan tidak bisa diobati. Sebagai contoh, konser musik, klub malam, dan bahkan suara lalu lintas padat termasuk sumber bising berbahaya.
Penuaan Populasi dan Infeksi Telinga
Populasi dunia semakin menua secara signifikan. Angka harapan hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2050, jumlah lansia di atas 60 tahun akan mencapai 2 miliar orang. Oleh karena itu, presbikusis atau gangguan pendengaran akibat penuaan menyerang hampir setengah lansia.
Proses penuaan menyebabkan degenerasi sel-sel sensorik di telinga bagian dalam. Kondisi ini tidak bisa dicegah sepenuhnya. Namun deteksi dini dan penggunaan alat bantu dengar dapat membantu. Sayangnya, banyak lansia di negara berkembang tidak memiliki akses ke alat bantu dengar.
Infeksi telinga tengah atau otitis media masih menjadi masalah serius. WHO memperkirakan sekitar 200 juta orang menderita infeksi telinga kronis. Infeksi yang tidak ditangani dengan benar dapat merusak gendang telinga. Akibatnya, kerusakan ini menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap infeksi telinga. Kurangnya akses ke layanan kesehatan memperburuk kondisi ini. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa infeksi telinga perlu penanganan medis. Dengan demikian, infeksi berulang menyebabkan kerusakan permanen sejak usia dini.
Penyakit Menular dan Kurangnya Vaksinasi
Penyakit menular tertentu juga memicu gangguan pendengaran. Campak, gondongan, dan meningitis dapat merusak saraf pendengaran. Selanjutnya, infeksi rubella pada ibu hamil menyebabkan bayi lahir dengan gangguan pendengaran. WHO mencatat bahwa vaksinasi dapat mencegah hingga 60 persen kasus ini.
Sayangnya, cakupan vaksinasi di beberapa negara masih rendah. Pandemi COVID-19 juga mengganggu program imunisasi rutin. Akibatnya, jutaan anak tidak mendapat perlindungan dari penyakit-penyakit tersebut. Kemudian, mereka berisiko mengalami gangguan pendengaran di kemudian hari.
Dampak Gangguan Pendengaran terhadap Anak
Gangguan pendengaran bukan sekadar tidak bisa mendengar suara. Dampaknya merambah ke berbagai aspek kehidupan penderitanya. Pertama, mari kita lihat dampak pada perkembangan anak.
Anak dengan gangguan pendengaran mengalami hambatan bicara dan bahasa. Mereka kesulitan menangkap suara yang membentuk kata-kata. Akibatnya, kemampuan berbicara mereka tertunda dibandingkan anak seusia. Selanjutnya, keterlambatan ini memengaruhi kemampuan membaca dan menulis.
Di sekolah, anak-anak ini sering duduk di bangku paling belakang. Mereka tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Kemudian, nilai mereka menurun dan minat belajar hilang. Oleh karena itu, banyak dari mereka putus sekolah karena frustrasi.
Dampak pada Produktivitas Kerja dan Kesehatan Mental
Orang dewasa dengan gangguan pendengaran sulit bersaing di pasar kerja. Mereka kesulitan mengikuti rapat atau berdiskusi dengan rekan kerja. Akibatnya, banyak dari mereka kehilangan pekerjaan karena dianggap tidak kompeten. WHO memperkirakan kerugian ekonomi global mencapai 1 triliun dolar AS per tahun.
Selanjutnya, gangguan pendengaran memicu isolasi sosial yang serius. Penderita sulit berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa malu dan enggan meninggalkan rumah. Dengan demikian, depresi dan kecemasan mengintai mereka setiap hari. Selain itu, risiko demensia pada lansia dengan gangguan pendengaran juga tiga kali lebih tinggi.
Biaya Ekonomi yang Harus Ditanggung
WHO menghitung biaya penanganan gangguan pendengaran sangat besar. Setiap tahun, dunia kehilangan 1 triliun dolar AS akibat kondisi ini. Biaya tersebut mencakup perawatan kesehatan, kehilangan produktivitas, dan biaya sosial lainnya.
Di negara berkembang, alat bantu dengar masih menjadi barang mewah. Harga satu unit alat bantu dengar mencapai 500 hingga 5.000 dolar AS. Sebagian besar penduduk tidak mampu membelinya. Padahal, tanpa alat tersebut, mereka tidak bisa berfungsi normal dalam masyarakat.
Operasi implan koklea juga memiliki biaya sangat tinggi. Prosedur ini dapat mencapai 50.000 hingga 100.000 dolar AS. Negara berkembang tidak memiliki fasilitas untuk prosedur canggih ini. Akibatnya, jutaan orang harus hidup dengan gangguan pendengaran seumur hidup.
Langkah Pencegahan untuk Individu
WHO tidak hanya merilis prediksi menakutkan. Organisasi ini juga memberikan rekomendasi pencegahan yang jelas. Berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan sebagai individu.
Batasi Paparan Suara Bising
Pertama, gunakan pelindung telinga saat berada di lingkungan bising. Penutup telinga atau sumbat telinga dapat mengurangi intensitas suara hingga 30 desibel. Kedua, saat mendengarkan musik, patuhi aturan 60-60. Artinya, volume maksimal 60 persen dan durasi maksimal 60 menit per hari.
Selanjutnya, jauhi sumber suara keras seperti pengeras suara atau mesin berat. Jika Anda harus bekerja di lingkungan bising, mintalah alat pelindung diri kepada perusahaan. Terakhir, istirahatkan telinga Anda secara teratur dengan menjauh dari kebisingan.
Lakukan Skrining Pendengaran Rutin
WHO merekomendasikan skrining pendengaran setiap tahun. Skrining ini sangat penting bagi kelompok berisiko tinggi. Pekerja pabrik, musisi, dan lansia termasuk dalam kategori ini. Oleh karena itu, deteksi dini memungkinkan penanganan sebelum kerusakan memburuk.
Banyak aplikasi ponsel yang dapat melakukan tes pendengaran sederhana. Namun hasil dari aplikasi tersebut tidak bisa menggantikan pemeriksaan dokter. Karena itu, segera periksakan diri ke dokter THT jika Anda merasakan gejala gangguan pendengaran.
Vaksinasi Lengkap dan Kebersihan Telinga
Pastikan Anda dan anak-anak mendapatkan vaksinasi lengkap. Vaksin campak, rubella, gondongan, dan meningitis dapat mencegah infeksi penyebab gangguan pendengaran. Oleh karena itu, ikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan pemerintah.
Terakhir, perhatikan kebersihan telinga dengan benar. Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam telinga. Cotton bud, jepit rambut, atau tusuk gigi dapat melukai gendang telinga. Cukup bersihkan bagian luar telinga dengan kain lembut. Jika Anda merasa ada sumbatan kotoran telinga, mintalah dokter untuk membersihkannya.
Peran Pemerintah dalam Mengatasi Krisis
WHO menekankan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar. Negara-negara perlu mengintegrasikan kesehatan pendengaran ke dalam sistem kesehatan nasional. Berikut rekomendasi WHO untuk para pembuat kebijakan.
Regulasi Paparan Bising di Tempat Kerja
Pemerintah perlu menetapkan batas aman paparan bising di tempat kerja. Perusahaan wajib menyediakan alat pelindung diri bagi pekerja. Selanjutnya, sanksi tegas harus diberikan kepada perusahaan yang melanggar aturan.
Program Skrining Nasional
Pemerintah perlu menyediakan layanan skrining pendengaran gratis. Skrining harus menjangkau bayi baru lahir, anak sekolah, dan lansia. Dengan demikian, deteksi dini akan menekan biaya perawatan jangka panjang.
Subsidi Alat Bantu Dengar
Alat bantu dengar tidak boleh menjadi barang mewah. Pemerintah perlu memberikan subsidi agar harganya terjangkau. Kemudian, program asuransi kesehatan nasional harus mencakup layanan kesehatan pendengaran.
Kesimpulan
Prediksi WHO tentang 2,5 miliar penderita gangguan pendengaran pada 2050 bukanlah lelucon. Angka ini mencerminkan krisis kesehatan global yang nyata. Penyebabnya beragam, mulai dari paparan bising hingga penuaan populasi.
Namun kabar baiknya, sebagian besar gangguan pendengaran dapat dicegah. WHO memperkirakan bahwa 60 persen kasus pada anak dapat dicegah dengan vaksinasi. Selanjutnya, penggunaan pelindung telinga dapat mencegah kerusakan akibat bising. Selain itu, skrining rutin memungkinkan deteksi dini dan penanganan cepat.
Tindakan kita hari ini akan menentukan masa depan pendengaran kita. Mulailah melindungi telinga Anda dari sekarang. Turunkan volume headphone Anda. Jauhi suara bising. Periksakan pendengaran Anda secara rutin. Dengan demikian, jangan biarkan diri Anda menjadi bagian dari statistik 2,5 miliar orang yang kehilangan kemampuan mendengar.
