Jantung Jadi Penyakit dengan Biaya Tertinggi, Ini Daftar Penyakit Katastropik yang Sedot Anggaran BPJS Terbesar 2025 – Jakarta – Penyakit katastropik (penyakit dengan biaya pengobatan tinggi dan mengancam jiwa) masih menjadi momok menakutkan, tidak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi kas negara. Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mencatatkan belanja pelayanan kesehatan yang sangat besar, dengan porsi terbesar diserap oleh penyakit katastropik.
Baca Juga: Nikmati Teh dan Kopi dengan SKM Tanpa Rasa Khawatir, Asalkan Ingat Hal-hal Ini
Pengeluaran untuk penyakit katastropik ini bukanlah hal baru, namun angkanya terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup dan bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Berikut adalah daftar penyakit katastropik dengan biaya klaim terbesar sepanjang tahun 2025 berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber.
💰 Nomor 1: Penyakit Jantung (Kardiovaskular) – Rp 16,5 Triliun
Untuk pertama kalinya, penyakit jantung menempati posisi puncak dengan total biaya mencapai Rp16,5 triliun. Angka ini mencakup biaya untuk tindakan medis seperti pemasangan ring jantung (stent), operasi bypass, kateterisasi jantung, serta perawatan intensif pasca-serangan jantung.
“Biaya penanganan penyakit jantung itu yang tertinggi dibandingkan penyakit lainnya, hampir mencapai Rp16,5 triliun,” ujarnya dalam sebuah wawancara (2025).
📋 Daftar Lengkap Biaya Klaim Penyakit Katastropik 2025
Berikut rincian lengkap biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk penanganan penyakit katastropik sepanjang tahun 2025
| Peringkat | Penyakit | Total Biaya (Triliun Rupiah) |
|---|---|---|
| 1 | Jantung (Kardiovaskular) | Rp 16,5 |
| 2 | Kanker (Onkologi) | Rp 6,9 |
| 3 | Gagal Ginjal Kronis (Termasuk Cuci Darah) | Rp 4,5 |
| 4 | Stroke (Serebrovaskular) | Rp 2,3 |
| 5 | Thalasemia | Rp 1,2 |
| 6 | Hemofilia | Rp 315 Miliar |
| 7 | HIV/AIDS | Data tidak tersedia |
Sumber: Data BPJS Kesehatan & Kementerian Kesehatan
🫀 2. Kanker: Rp 6,9 Triliun
Di posisi kedua, penyakit kanker mencatatkan biaya sebesar Rp6,9 triliun. Biaya ini mencakup prosedur kemoterapi, radioterapi, operasi, serta pengobatan paliatif untuk berbagai jenis kanker, seperti kanker payudara, serviks, paru-paru, dan darah (leukemia).
🩺 3. Gagal Ginjal Kronis: Rp 4,5 Triliun
Penyakit gagal ginjal kronis, terutama yang memerlukan terapi cuci darah (hemodialisis), membebani anggaran hingga Rp4,5 triliun. Pengobatan gagal ginjal memerlukan biaya rutin yang besar karena pasien harus menjalani cuci darah, seringkali dua kali seminggu seumur hidup.
🧠 4. Stroke: Rp 2,3 Triliun
Stroke menempati peringkat keempat dengan biaya Rp2,3 triliun. Biaya ini digunakan untuk perawatan fase akut, rehabilitasi pasca-stroke, dan penanganan komplikasi lainnya.
🩸 5. Thalasemia dan Hemofilia
Thalasemia: Rp 1,2 Triliun
Hemofilia: Rp 315 Miliar
Kedua penyakit darah bawaan ini memang memiliki jumlah penderita yang lebih sedikit dibandingkan penyakit katastropik lainnya, namun biaya per pasien sangat besar karena memerlukan transfusi darah rutin dan terapi pengganti faktor pembekuan darah.
📈 Tren & Faktor Pendorong Biaya
Beberapa faktor utama yang menyebabkan melonjaknya biaya penyakit katastropik antara lain:
Peralatan Medis Canggih: Teknologi seperti cath lab, CT Scan, dan MRI memang meningkatkan kualitas diagnosis, tetapi harganya sangat mahal.
Obat Modern & Biologis: Untuk kanker dan ginjal, banyak menggunakan obat-obatan generasi terbaru yang harganya bisa mencapai puluhan juta per bulan.
Kurangnya Deteksi Dini: Keterlambatan penanganan membuat kondisi menjadi lebih parah dan membutuhkan prosedur medis lebih kompleks.
Efek Samping Gaya Hidup: Maraknya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) menyebabkan prevalensi penyakit kardiovaskular dan diabetes melonjak.
🛡️ Upaya Pemerintah
Menghadapi tingginya biaya ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 3,2 triliun khusus untuk pemeriksaan katastropik. Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga terus digencarkan sebagai upaya deteksi dini. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, juga gencar meluncurkan kampanye untuk menekan angka prevalensi penyakit katastropik melalui pola hidup sehat dan skrining rutin.
Dengan besarnya dana yang tersedot, penting bagi masyarakat untuk mulai menjaga pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini secara berkala. Kesehatan adalah investasi terbaik, baik untuk diri sendiri maupun untuk kesehatan fiskal negara.